Tiba-tiba terdengar pintu pagar terbuka, rupanya Yumul, adik Budi, pulang lebih awal ditemani pacarnya Wadi. Yumul sedang merem-melek karena buah dadanya sedang dikulum Wadi. “Yumul sudah tidur, tadi pulang diantar Mas Wadi,” kataku ketika mereka menanyakan Yumul.Keesokan harinya kudengar Yumul seharian mengurung diri di kamarnya dan hanya sesekali keluar untuk makan. Seolah mengerti maksud pertanyaanku, Yumul menjawab, “Aku telah bersetubuh dengan Mas Wadi, dan dia yakin bahwa perawanku telah hilang saat dia masukkan jarinya padaku, dan keluargaku yakin murungku selama ini adalah karena mamanya mas Wadi diopname, jadi masa depanku cerah lagi.” Hanya itu yang dikatakan dan ia berlalu dengan ceria, gaya manja khas belia 17 tahun. “Astaga, mereka bersengggama,” pikirku sambil menelan ludah dan




















