Setiap kupercepat lagi, tangan Mbak Mira meraih tanganku
lagi, sehingga akhirnya aku mengerti dia hanya mau jariku bergerak pelahan di
dalam vaginanya. Kemudian kupisahkan kedua pahanya yang putih,besar
dan empuk itu. Mbak Mira
tidak berhenti mendesah sambil tangannya mengusap-usap rambutku. “Emmm, pingin nanya aja.”
“Enggak kok, aku nggak pacaran sama Mela,” jawabku datar. Kamu tunggu dulu ya, aku beresin
ini dulu,” Farah agak memaksaku sambil membenahi catatan-catatan rapat. Langsung
kupeluk dia dari belakang tepat di depan pintu kamar mandi.Kusibakkan rambutnya, kuciumi leher belakangnya, sambil
tangan kiriku mengusap-usap pinggulnya yang masih terbungkus kulot. Kemudian Mbak Mira berjalan mundur masuk kamar mandi sementara rudalku
ditariknya.Aku meringis menahan rasa sakit, sekaligus pengin tertawa
melihat kelakuan Mbak Mira itu.

