Aku agak kaget dan langsung membuka detikHot lewat ponselku. Tangan Rini memukul-mukul kardus, tempat kepalanya bersandar, rasanya susah kalau berkomunikasi dengan posisi begini. Meskipun tidak menengok ke belakang, aku tahu Rini mondar-mandir kebingungan.“Mau kubantuin gak?” ujar Rini, inilah yang kutunggu-tunggu. “Ya uda sana-sana!” teriaknya membelakangiku, akupun berjalan mendekati ujung ruangan, menggosok-gosonk penisku ke depan-belakang, aku tahu Rini dikit-dikit menoleh ke arahku. Penisku membesar, sakit rasanya dihalangi celana jeans yang cukup tebal ini.“Kamu kenapa?” tanya Rini, aku menjelaskannya secara detail namun dia menyentilku, kukira akan ditampar. “Kamu jangan cari kesempatan yah!” ujarnya sinis. Kumasuki kamar hotelnya dan kuletakkan di atas tempat tidurnya. terus jangan kena gigi ya,” tambahku. Akupun berlari ke arah dia.













