Asal jangan tiga kali menginjak kakiku.”
“Mungkin lebih.”
“Ayolah. Ia sudah melepas cardigan birunya. “Suasana yang tak menyenangkan, kurasa,” ucapnya. Lumayan juga penghasilanmu.”
“Cukup untuk seorang diri.”
“Let’s see. Let’s fuck.”
“Aku tak suka istilahmu.”
“Terserah. Jangan berhenti. “Ahhh,” ia mendesah saat kulakukan itu. Aku terbangun dengan tubuh tertekuk, telanjang dan pegal, mendapati dirinya tak ada di sampingku. Sejuta kesan yang tiada pernah lengkap diurai dengan kata-kata. “Tak apa-apa. Tapi akhirnya kutekan pedal gas dan melajukan mobil menuju rumahku.“Well, home sweet home,” ucapku setelah menghentikan mobil di tepi trotoar. Buah dadanya menekan dadaku, membuatku bingung. “Tunggu,” katanya sambil tersenyum. Kurasakan sesak yang luar biasa. Setelah itu keheningan kembali di antara kami. Matanya menatapku. Ia tertawa lagi.




















