Saat aku balikkan badan, kulihat Mas Agus sudah barada tepat di depan pintu. Aku bekerja menjadi salah seorang penjaga meja, sekaligus merangkap pramusaji di club tersebut, kadang kadang aku merasa sangat lelah dan letih, apalagi jika aku harus terpaksa pulang larut malam dari tempat kerja. Aku ingin membuka mataku.Sedikit demi sedikit mataku terbuka. Bola mataku bergerak ke arah kanan dan kulihat samar Mas Agus berdiri di samping ranjang sedang membuka helai demi helai pakaiannya. “Mas Agus pegal-pegal nih, kamu pijitin sebentar yah!” pintanya. Saya lagi tidak bawa uang banyak..!” seruku, sementara kulihat Pak Dicky manajerku, berjalan menghampiriku. Kemudian ia memintaku berhenti dan melepaskan celana dan CD-ku. “Hentikann..! Tapi tidak apalah, yang penting aku bisa mempunyai





















