Meskipun tetap dgn ogah-ogahan dan tidak percaya, aku ikut juga menjadi muridnya. Dia mulai terangsang.“Bagaimana rasanya, Cah Sara?” bisikku. Ke ini, tempat pipis saya. Kenyal dan hangat):
“ya sudah Cah Sara, aku kasihan kepadamu” kataku kebapakan:
“aku akan mencoba menolongmu, dgn sepenuh ilmuku. Tidak kuperdulikan lagi omelan mbakyuku dan pandangan sinis orang tuaku (mereka selalu menasehati: hati-hati lho Dar, jangan mbohongi orang). Aku mendeham:
“belum Cah Sara” kataku:
“Aku bilang semuanya. Wajahnya menunduk Sara ke bawah:
“kenapa?” tanyaku:
“kamu rasa sakit ya Cah Sara? Nah, tiba-tiba ada pikiran licik di otakku. Di sini manteranya kuat sekali. nanti lama-lama sakitnya hilang, berganti rasa enak”.Aku harus mengakui, inilah lobang kemaluan ternikmat yg pernah kurasakan. Pasien sudah sepi, dan aku sudah merasa sangat mengantuk.




















