Kedua pahanya mengejang kaku,kepalanya hingga terbaring dipermukaan meja sambil terus merintih tiada henti. Aku mendorong tubuh telanjangnya menghadap meja kecil di hadapan kami. Nikmat tetap menjalari benak kami dalam bisu. Matanya sembab, dirinya duduk di kursi di sampingku, tanpa bicara. “Monggo den..”
“Apa yg mbak rasa waktu itu,..mm..waktu di kamar..” kalimatku makin menjebak. Aku ingin menikmati peristiwat ini lebih lama, aku mengaduk2 kewanitaanya perlahan serta lembut. “Kalo saya minta tolong supaya mbak gak takut lagi gimana..”Responku mencecar pikiranya. “Iyah, semalem begadang sm temen-temen..” Jawabku. “Mbak gimana beritanya, urusan yg dulu itu telah berakhir..” Ujarku mengawali pembicaraan. Hanya tertinggal bra serta celana dalam lusuh itu menutupi. “Soal tua sih gak jadi soal..jujur aja, mbak tetap luar biasa




















