“Duh saya makin tidak sedikit utang budi dong den..”Lanjutnya. Aku menduduki perutnya sambil kedua tanganku bergerak melepas bajuku. Aku tetap sibuk membalas sms kawan2ku. Dirinya makin terbuai oleh rangsangan dariku. “Telah telat mbak” Suaraku bergetar menghardiknya. My gosh, aku baru saja menodai perempuan ini. “Soal tua sih gak jadi soal..jujur aja, mbak tetap luar biasa kok..”Lanjutku makin berani. Aku telah berusaha keras utk menahan diriku utk tidak berniat aneh pada dirinya tapi kesadaranku belum penuh utk melawan kegilaan ini. Aku menatap pemandangan luar dari jendela. “Den…apa aden yakin …?” Tiba2 dirinya berucap. Tapi situasinya telah terjepit, wanita lain mungkin bakal menghardiku serta segera berangkat menjauh, sementara mbak Juminten tidak punya opsi lain. Aku mendorong tubuh














