Sekembali SUtinah, aku suruh dia menelentang di lantai berlasakan tikar. Aku menabur jaring kecil berkeliling. “Bukannya menjawab, malah tersenyum,” kata ibu membentak dengan suara tertahan, takut di dengar orang lain.“Ya… pasti aku tidak bercerita apa-apa,” kataku tenang. Suti sekolah. Kami makan nasi bercampur mi goreng. Sutinah pun memegang penisku lalu ujungnya dia tempelkan ke lubang memeknya. Hanya kita beruda saja,” kataku. “Tapi kalau tak ada yang mendengar ya?” kataku. “Bu ne, kamu jangan terlalu jauh ke depan, kataku. Begitu nasi masak. Apa namanya itu bukan sayang?” tanyaku pula. Dia sudah cekatan nampaknya. Di rumah kami memang tak ada tilam. Aku ingin mendengar desahnya, seperti desah isteri Lek Parto. Suti diam saja.



















