Kupandangi susunya keras tegak menantang.Ketika kurapatkan “senjataku” ke vaginanya, reflek tangan kirinya menangkap dan kedua kakinya diangkat. Ekspresi spontan karena malu.Kupikir dia sama saja denganku, pengalaman pertama dengan orang lain. Kini ujung kemaluanku sudah menyentuh bibir vaginanya. Lalu kulepas sepatu dan menghempaskan badan di kasur yang empuk. Kami larut dalam lumat-lumatan bibir dan lidah tanpa henti. enak sekali.. Kini erangannya semakin sering dan keras. Mamah juga.. Belum sempat aku buka mulut, ia sudah melanjutkan pembicaraan,
“Kerja dimana Mas?”
“Daerah Sudirman,” jawabku.Obrolan terus berlanjut sambil sesekali aku perhatikan wajahnya. Kumulai dengan memasukkan burungku secara perlahan. Hanya memakai baju putih tipis tanpa lengan.














