Aku setuju. Tiba-tiba dia memelukku lagi. Bokeb Dia menyodorkan uang dua lembar lima puluh ribuan, aku menolaknya, biar aku saja yang membayar Taxi itu. Dia setuju dan masih menenteskan air mata. Kami memadu janji, bahwa suatu saat nanti kami akan kembali ke tempat itu. Tapi apa yag terjadi ? Kujelaskan semuanya, walau kita beda usia yang cukup mencolok, tapi aku mau menikah dengannya. Akhirnya kami memutuskan untuk bermalam di sebuah tepian batu cadas yang sedikit seperti goa. Saking lelahnya, rombongan mulai berkelompok dua-dua. Rasa-rasanya jalan yang kami lalui itu benar, soalnya hanya ada satu jalan setapak yang biasa dilalui orang. Aneh bin ajaib, Anisa tampak sudah berkurang merasakan kedinginan malam itu, seperti aku juga.




















