Tetapi setelah didesak terus oleh om James, akhirnya aku pun mengiyakan saja.Aku tak tahu kalau keputusanku saat itu ternyata keputusan yang ceroboh karena belakangan baru ku ketahui bahwa untuk mengisi tawaran itu, tidak sedikit uang yang harus dikeluarkan. Ia menelentangkan tubuhku di atas sofa dengan perlahan, ditatapnya dengan tajam seluruh lekuk-lekuk tubuhku dari ujung rambut sampai ke telapak kaki seolah-olah dia hendak menelanku hidup-hidup saat itu, atau mungkin saja dia kebingungan harus memulainya dari bagian yang mana. Begitu terbuka, ia pun langsung memelorotkannya dan kemudian melemparkannya ke atas karpet. Om James memutar-mutar bibirnya yang menempel di bibirku seiring dengan permainan lidahnya yang sungguh buas. Aku minta maaf untuk kekhilafanku waktu itu dan aku juga ingin




















