Namun ibu justeru duduk membelakangiku untuk mempermudah melapi pungunggnya.Usai belakang leher hingga bahu sampai batas kain ,’’bisa turunin dikit kainnya bu?’’, tanpa berkata-kata ibu melepaskan ikatan sarungnya, dan kembali kunikmati punggung yang kini berbelang merah sampai batas pinggang itu, dengan lembut ku usap seluruh permukaan kulitnya dengan handuk basah hangat tadi, dan butiran keringat mulai muncul dari pori-pori kulitnya. “kalau gitu saya bikinin teh panas ya bu, saya juga masih punya obat neh”, ibu mengangguk lalu berjaan menuju kamarnya. Ku lepaskan kaus kumal yang kupakai, dan kugunakan sebagai lap menghilangkan jejak-jejak tindakan mesum yang kulakukan malam itu. “ehmm…kalau gitu saya kompres aja ya bu”, tawarku…”gak usah repot…”, belum usai kalimatnya aku sudah setengah berlari ke




















