Mulai sekarang, setiap datang masa suburku tempatku adalah di sini bersama Bruno. Kami telah terikat bersama. Kenyataan itu serasa menyiramkan aliran listrik yang menggetarkan seluruh urat syarafku. Juga untuk meyakinkan bahwa tak ada benih suamiku yang bisa menghamiliku selama masa itu. Sebaliknya jamu pemberian Parulian kuminum teratur tiga kali sehari. Alasan utama untuk tidak melakukan hal semacam itu adalah karena pendidikan moral yang sangat ketat yang kuterima sejak kecil. “Sangat indah. Aku menyeberangi jalan dengan setengah berlari. Aku yakin Bruno akan senang menemuimu lagi.”Setelah itu pintu pun tertutup dan sayup-sayup dapat kudengar tawa senang mereka di baliknya.




