“Sebentar…nanggung…” sahut lelaki itu. “Aaannggghhhhhhhhh…. Maudy meronta-ronta, kedua kakinya menendang-nendang, saat remasan makin keras dan menyakiti kelaminnya. Sampai akhirnya ketika masuk juga, pipinya tampak menonjol tertekan kepala penis lelaki itu. Lidah lelaki satunya pun mulai menyentil-nyentil area sensitif itu. Tapi kali ini tak pakai pemanasan dengan aksi jilat. Maudy panik, ia mencoba membuka jendela, tapi gagal. Maudy dengan sisa-sisa tenaganya, menuruti perintah itu. “Buka lebar-lebar kaki lu neng…” Maudy gemetar, ia diam saja. Maudy agak lega ketika belati itu ditarik. “Jangan….jangan….jangan perkosa saya..!!!” pekiknya sambil meronta, ketika melihat kepala penis lelaki di depannya mulai menguakkan bibir vaginanya. Tubuh Maudy bergetar hebat ketika jemari lelaki itu menyentuh tepi celah kemaluannya, menyusurinya dari atas ke bawah.














