Saya sendiri tinggal di sini. Dan ini mendapat perhatian besar Pak Bambang. Cukup bahenol, kata rekan pria di kantor. Saya merasakan bibir memek saya pun sudah basah. Tapi, jilatan Pak Bambang benar-benar membuat dada saya turun naik. Kalau tidak di rumahnya, kami juga nginap di Tawangmangu. Itu yang saya tunggu-tunggu. Singletnya pun basah oleh keringat. Dan akan siap dalam dua atau tiga hari mendatang. Itu yang saya tunggu-tunggu. Setelah beberapa hari sebelumnya saya habis ditodong saat berhenti di sebuah perempatan lampu merah, saya diminta datang ke kantor polisi. Semua itu saya lakukan, tanpa setahu Iwan. Sekali waktu, saya keceplosan. Masak menabrak motor saya.




















