Ah! Aku harus memijat pantat Mas Agus dengan gigiku. “Mas Agus pegal-pegal nih, kamu pijitin sebentar yah!” pintanya. Paman menatapku dengan pandangan aneh, lurus dan tajam ke arahku, tepatnya tubuhku.“Mas Agus! Kemudian ia lanjutkan helai terakhir dan, wah.. “Nggak tau ah, gimana entar aja.” jawabku sambil agak ketawa, habis geli banget diraba-raba sama Mas Agus. Setelah mengunci pintu, diturunkannya aku di tepi ranjang. Sebelum sepuluh tahun yang lalu aku hanyalah anak laki-laki biasa yang senang bermain bola di lapangan yang becek sisa hujan semalam atau berlari-larian mengejar layangan putus sampai ke kebun orang dan dimarahi sang pemilik kebun. Mungkin memang aku yang beranggapan salah..“Kok belum tidur?” Tiba-tiba saja kudengar suara Mas Agus di sampingku mengagetkanku.




















