Mbak Dewi mencoba melepaskan pelukanku.“Maaf wan, mbak perlu berpikir”, kata mbak Dewi beranjak. Ia buru-buru masuk kamar sambil membawa gaunnya.Tak perlu lama, ia sudah keluar dengan memakai baju itu. Dari kesukaannya, dari pengalaman hidupnya. Kuciumi putingnya, kulumat, kukunyah, kujilati. Lumayan banyak belanjaan kami. Aku baru keluar dari kamar mandi. Aku pun mencoba menguping.“Apa yang harus aku lakukan?….Apa…”Aku menunduk, mungkin mbak Dewi kaget setelah pengakuanku tadi. Banyak karyawannya, urusan kerjaan semuanya tak serahin ke general managernya. Plok…plok..plok..cplok..!! Ia suka sekali mengoral punyaku, mungkin karena punyaku terlalu tangguh untuk liang kewanitaannya. Waktu jamnya menjemput anak-anak mbak Dewi sepertinya.Mbak Dewi menyentuh penisku. Di sini aku numpang di rumah bibiku. Anak-anaknya sarapan.














