Dia menghirup lagi dari gelas besar itu. Jangan buru-buru seperti tadi.”“Iya Tante, janji”.Dan kamipun melakukannya lagi. Dan kalau muncrat bukan main banyaknya yang keluar.Mungkin karena ukuranku yang lebih panjang dari ukuran rata-rata. Nanti bilahmu itu tahu sendiri.” Suaranya penuh tantangan.Dan akupun berbalik, nafsuku menggelegak. Apa yang mesti kuserang dulu, karena semuanya menggiurkan. Kadang ke Jakarta, Medan dan ke Singapura. Wah aku betul-betul terpesona.Dan Tante Ratih ini teman ibuku. Habis itu aku kembali ke ranjang. Dan juga aku jagoan di lapangan sepakbola. Berdekatan dengan mereka aku gugup, mulutku terkatup gagu dan nafasku sesak. Ya dia. Aku sudah tahu titik kelemahan pertahanannya. jangan buru-buru ya sayang.” Dan aku memang berusaha mengendalikan diri menghemat tenaga.




















