Mengisi kegersangan dan kesunyian hatinya yang selalu ditinggal suami. Tidak ada satupun yang melirik apa lagi memperhatikan lamaran dan ijazahku. Semula aku ragu dan hampir tidak percaya, karena langsung disuruh masuk ke dalam kamarnya. Sedangkan untuk kembali ke kampung, rasanya malu sekali karena gagal menaklukan kota metropolitan yang selalu menjadi tumpuan orang-orang kampung sepertiku.Seperti hari-hari biasanya, siang itu udara di Jakarta terasa begitu panas sekali. Tidurpun di mana saja. Jangankan hanya ijazah SMP, lulusan sarjana saja masih banyak yang menganggur. Aku masukan buku tabungan itu ke dalam tas ransel, diantara tumpukan pakaian. Dadaku jadi berdebar kencang dan menggemuruh. “Cari kerja”, sahutku tetap polos. Membelai dan meremas dadanya yang padat dan kenyal dengan penuh gairah yang



















