Aku sudah semakin paham dan kuarahkan penisku ke lubang di bagian bawah badannya. Mereka kelihatan tidak keberatan alias oke-oke saja. “Udahlah turuti saja, jadi anak yang penurut, jangan suka terlalu banyak tanya,” nasihat mbahku. Anehnya si mbah yang selalu memberi perhatian lalu mgomong ke simbok. Sejujurnya aku sangat risih, tetapi apa daya tidak berani protes. Aku tinggal bersama emakku yang aku panggil simbok dan nenekku yang aku panggil mbah. Namun kedua mereka dikaruniai badan yang langsing dan menurut istilah Jawa, singset. Aku mengenakan kaos usang yang di beberapa tempat sudah ada yang sobek. Mungkin itu naluri yang menuntun semua gerakan. Aku diminta mengangkat badanku sedikit dan ketika ujung peler sudah di depan lubang aku diminta


















