Rio orangnya pengertian dan sabar.Karena sama-sama bekerja, otomatis pertemuan kami lebih banyak setelah sepulang atau sebelum berangkat kerja. Saya merasa berdosa padanya. Terdengar suara kecipak becek yang diselingi nafas memburu Pak Karyo.Ini permainan yang baru yang pertama kali saya rasaran. Tubuh besar hitam itu pun ambruk diatas tubuh saya. Tangannya kemudian memijati pinggiran daerah sensitif saya. Belum tampak tanda-tanda itunya akan ‘menembak’.Padahal, saya sudah kembali merasakan ujung vagina saya memanas. Semua itu saya lakukan, tanpa setahu Rio.Dan saya yakin Rio juga tidak tahu samasekali. Di atas ranjang kayu itu saya disuruh berbaring.“Maaf ya,” katanya ketika tangannya mulai menekan perut saya.Terasa sekali jari-jari tangan yang kasar dan keras itu di perut saya.














