Jhony!”Ia menjadi liar. “Kunci dulu pintu itu,” katanya sambil menunjuk pintu ruang kerjanya. Aroma yang memaksaku terperangkap di antara kedua belah paha Mbak Lia. Aku tak berdaya. Pinggulnya terangkat dan terhempas di kursi berulang kali. Ia lalu menekuk dan meletakkan telapak kaki kanannya di permukaan kursi. OK?”Aku mengangguk. Sejenak aku berhenti menjilat-jilat sisa-sisa cairan di permukaan kewanitaannya.“Aku puas sekali, Jhony,” katanya. Pada saat itulah aku mendapat kesempatan memandang hingga ke pangkal pahanya. Tak pernah aku melihat paha semulus dan seindah itu. Pesona yang membutuhkan sanjungan dan pujaan.“Periksalah, Jhony. Karena ingin melihat lebih jelas, kugigit bagian bawah roknya lalu menggerakkan kepalaku ke arah perutnya.




















