Aku mengambil kursi kayu lalu duduk disampingnya, meremas handuk dan mulai secara lembut mengusap wajahnya. Gerakanku terhenti ketika tepi paling atasnya tiba di pangkal paha ibu mertua yang agak merapat itu. Kami berasal dari keluarga dengan ekonomi pas-pasan. Aku kemudian mandi, sedikit tertegun melihat kaus kumal tadi malam, lalu aku mencucinya.“Bu…ibu,”, panggilku mencoba membangunkannya sambil sedikit menepuk pundaknya. Tapi sensasi yang kurasakan sangat luar biasa, anda akan paham jika lama tak merasakan kenikmatan tubuh wanita.Mataku menyaksikan wajah ibu yang damai dalam tidurnya, ia cukup manis walau munkin jarang tersentuh make up, ingin rasanya kuciumi pipinya tapi tentu beresiko. Dengan segera aku menyusulnya,’’Ibu muntah lagi?”, tanyaku…ia mengangguk lemah dan berkata ‘’, Ibu kalau belum dikeroki biasanya




















