Saya sempat minder melihat penis si bapak itu. Tanpa aba2 si bapak memegang tangan Vivi dan coba ngarahkannya ke penis raksasa itu. “Tenang cah ayu awalnya memang sedikit sakit tapi lama2 pasti kamu suka “. Untung saja pikirku. Beberapa detik berselang Vivi kembali orgasme. Yakin mereka akan menyudahi pertarungannya saya bergegas kembali kewarung kopi tadi. Vivi terlihat sangat lemas. Pelan2 bapak tua itu mulai menggoyangkan penisnya diliang vagina Vivi. Terlihat jelas dari arah saya mengintip penis itu dimasukan dan ditarik begitu seterusnya sampai akhirnya seluruh penis itu lenyap ditelan vagina Vivi saya sampai terheran2 melihat peristiwa itu Terdengar erangan Vivi “sssssshhhhhh aaccch”. Setibanya dikamar mandi dimaksud si ibu saya sempet bingung.




















