abis Mas belum pernah ya.. Kubalikkan dia, lalu kugenjot sekuatku.“Maass.. Nafasnya semakin memburu. segar sekali..” Berkali-kali kulakukan itu sampai kudengar dia mendesah. Pasti gara-gara mengintip tadi.“Ayoo.. Malah dadanya makin dibusungkan ke depan. shh.. Aku belum nyuci,” balasnya.“Udah cepetan bangun. bukan main.. kuperhatikan tubuhnya. Sakit khan..” kataku karena kont0lku ditarik.“Cepetan doongg.. aduuhh..”Aku tdk peduli. Melihat sepatu itu aku tersenyum sendiri. Siang itu kami sekolah bergandgn tangan seakan tak mau dipisahkan.Malam harinya saat belajar, Fitri datang lagi. Makin cepat, secepat aku bisa. Langsung kutepis tangannya.“Huuss jangan.. Mass.. Dan dia sepertinya mengerti dan membalas. Tahun 1972, aku sekolah di SD Negeri 01 yg letaknya kurang lebih 1 km dari rumah yg kutempuh dgn jalan kaki melewati persawahan dan




















