Kembali kucekal kedua tangannya, dia berusaha melawan, tapi tenagaku lebih kuat, posisi kami saling berhadapan dan aku memegang kedua tangannya. “aacchhh..aacchh…” dia mendesah, terus kudorong pelan kontolku, kepala kontolku mulai masuk, memeknya yang merekah merah perlahan menelan batang kontolku. Sore itu Vina mengenakan kaos ketat berwarna putih dan ditutup cardigas hijau muda dengan tok bermotif bunga sedikit lebih tinggi diatas lututnya, nampak lebih cantik di banding penampilannya ke kampus. Aku diam saja, karena merasakan kontolku perlahan mulai menggeliat. Kemudian aku bangkit, dan terus menciumi telinga Vina. Dia menengadahkan wajahnya ke arahku. Ngagetin saja . Pada akhir tahun 2003, kampus kami mengadakan lomba penulisan ilmiah, ketua jurusan meminta aku dan Vina mewakili jurusan kami dalam kegiatan




















