Aku pura pura tertawa lega:
“naah, kalau kamu tidak rasa sakit, dapat geli saja, artinya ilmunya memang belum masuk terlalu dalam. Sekali lagi aku memercikkan air bunga dari gelas ke bagian yg ditunjuknya, dan mendekatkan mulutku ke belakang telinganya. Untung orang tuaku termasuk orang kaya di kampung, jadi semuanya masih dapat ditanggulangi. Ekspresinya seperti dia sedang mengejan atau menahan sesuatu yg sangat nikmat.Horee, aku berhasil! Meskipun ilmunya, dibandingkan dgn ilmu Kakekmu ini, masih cetek banget.” Katanya dgn meyakinkan dan mata melotot.Aku menggaruk kepalaku. Setiap hari paling sedikit sepuluh orang antre di rumahku, dari siang sampai malam. Dia mengerang pelan, matanya tertutup rapat.




















