Harum payudaranya semakin menyengat hidungku, puting yang kemerahan semakin mencuat.Aku menatapnya untuk memantapkan pergumulan kami, tapi aku hanya melihat mata Sava yang tertutup dengan bibir yang dia gigit sendiri. Seluruh gerak tubuhnya terhenti, detak jantungnya terpacu kencang. Sava tersedak, spermaku meleler keluar dari mulutnya. Berganti dengan hangat yang pekat, sangat hangat, begitu lembut. Bulu-bulu halusnya aku kulum lalu aku tarik pelan. Dan sebuah daun pisang tersandar di sudut tembok seolah menyaksikan kami berdua.*****
“Dukung aku ya menang di final minggu depan !” kami berpelukan saat aku mengantarnya ke terminal.“Pasti, semangat ya, kamu harus menang !”Sava melepas peluknya, berjalan mundur menuju bus yang telah menunggunya, sambil terus berkata, “semangat semangat harus juara juara,” begitulah dengan gestur yang




















