Aku menangis semakin keras, mengerang dan terisak, sesekali menguap dengan gerakan sesamar mungkin, sekedar memastikan air mataku tetap keluar. Selalu begini, begitu sudah keluar, langsung saja keinginan itu hilang lenyap. “Ray.. ah.. “Ray.. Kami akhirnya mengambil tempat di salah satu warung di sebelah toko buku itu.“Ray, gimana aja kabarnya.. “Masa?” tanyaku. aku juga minta maaf..” Akhirnya siasat ini memang tak pernah gagal.Nia diam saja saat aku membalikkan tubuhku dan mengecup bibirnya. “Masa?” tanyaku. nikmatnya..” Nia mengeluh kecil saat kulepas kaitan BH-nya. Bener kan? Waktu itu aku sedang sendiri. Kukulum lagi bibirnya, sekarang tanganku mengangkat bagian bawah bajunya. gimana sih.. ah..”
Nia mengeluh saat tangannya menggenggam batang kemaluanku dan menaruhnya di entah bagian mana dari kemaluannya dan




















