Namun malahan membuatnya semakin liar. Nyaris tubuhku kini tanpa busana. Rasanya aku tiba-tiba lemas sekali, belum sempat menjawab bibirku dilumat lagi. Ciuman Kak Agun terus menjalar hingga leherku. Dia hanya tersenyum dan membopongku ke kamarku. Tapi Kak Agun lebih kuat. Ciuman Kak Agun begitu lincah di bibirku membuat aku merasa terayun-ayun.Tangannya mulai memainkan rambutku, diusap lembut dan menggelitik kupingku. “Jangan…, jangan…, acch…, acch…”, aku berusaha menolak namun tak kuasa. Aku hanya bisa diam dan menikmati. Tangannya mulai memainkan payudaraku. Saat itu aku masih SMP kelas 2, Kak Luna sudah di SMA kelas 2. Banyak teman-temanku maupun teman kakakku naksir kepadaku.










