Memandang Pak Budi, saya bergidik juga. Sambil minum ia banyak bercerita. Ia menghentak dengan kuat. Saya tahu, beberapa kali ia melirikkan matanya ke saya yang duduk di sebelah kiri. Tubuh saya mengejang. Dan ketika tangan itu berada di atas pantat saya, Pak Budi mulai melenguh. Ah, kalau yang itu mungkin saya bisa bantu,” katanya. Ia menaikkan satu kaki ke atas kursi. Tanpa bicara, Pak Budi kembali melanjutkan pijatannya. Kecil. Tangan saya yang mencoba menahan tangannya malah dibawanya untuk meremas payudara saya. Tangan saya pun terasa berat untuk menahan tangannya. Di atas ranjang kayu itu saya disuruh berbaring.“Maaf ya,” katanya ketika tangannya mulai menekan perut saya.


















