Suatu ketika saat pulang kantor, mobil tidak ia arahkan kerumah tapi, kerumahnya di kawasan kartosuro. dan istri saya mati, terangnya.sekarang ibu,, lah yang menggantikannya.A lanjutnya lagi. Lalu aku pulang diantarkanya dengan mobilku. Pak Rojak kuajak makan.Kami duduk berhadap hadapan, ia pandangngi terus mataku. Dalam rumah itu hanya ada dipan beralaskan tikar dan sebuah bantal. Lalu Pak Rojak menutup pintu rumah itu dan menyilahkan aku duduk di pinggiran dipan itu. Para pembantuku tidak curiga atas tindakan kami itu.Pak Rojak pun tampaknya bisa menutup mulut kedua pembantuku. Sebagai wanita jawa aku dituntut untuk nrimo dan pasrah saja. hampir tiap malam aku bermimpi bertemu dengan pria yang ku tabrak itu.




















