Reinaldo, suami saya, bahkan tidak pernah menyentuh daerah pribadiku dengan mulutnya. Itu yang saya tunggu-tunggu. Kalau tidak di rumahnya, kami juga nginap di hotel. Meski sedikit kasar, tapi Pak Budi itu suka sekali bercerita dan juga nanya-nanya. Menghayalkan banyak hal. Menghayalkan banyak hal. Meski, kemudian Pak Budi juga sering minta duit, saya tidak merasa membeli kepuasan syahwat kepadanya. Saya ceritakan soal desakan ibu mertua agar saya segera punya anak. Ia menaikkan satu kaki ke atas kursi. Tapi saya pura-pura tidak tahu. Untung tidak terlalu parah betul. Saya pun meladeni dengan goyangan. Rumah pria yang kemudian kami ketahui bernama Budi itu, berada pada sebuah gang kecil yang tidak memungkinkan mobil Blazer suami saya masuk.Terpaksalah kami berjalan














