Suaralembut membisikkan telingaku.“Bernas,bangun yuk. Bokep Tante Yesyes … tante kalah sekarang. Nggaseru kalo game-nya cepat habis kayak begini”kata tante Ani.Setelah meneguk wine-nya lagi,tante Aniterdiam sejenak kemudian tersenyum genit.Senyum genitnya ini lebih menantang daripadayang sebelum-sebelumnya.“Tante dare Bernas untuk … hmmm … ciumbibir tante sekarang.” tantang tante Ani.“Ahh,yang bener tante?” tanyaku.“Iya bener,kenapa ngga mau? TanteAni seakan-akan menikmati betul ciuman ini.Nafas tante Ani pun masih teratur,tidak adatanda sedikitpun kalau dia tersangsang.“Sudah cukup dulu. Alasan-nya tidakdijelaskan oleh ibu,karena mungkin aku masihterlalu muda untuk mengerti hal-hal seperti ini.Pada suatu hari ayah dan ibu lagi-lagi cabut darirumah. Tante Ani hanya tersenyum-senyum sajasambil menegak wine-nya lagi. Adarasa senang juga di dalam hati.Setelah mencuci muka,ganti pakaian,kita berduaberpamitan kepada pembantu rumah kalau kitaakan makan keluar.




















