Menurutku karena tempatnya di ujung lorong sehingga tak banyak orang yang lalu lalang, lagipula selama ini hampir tak ada yang menggunakan dapur tersebut karena rata rata penghuni kosanku itu adalah karyawan/i yang notabene tak punya banyak waktu untuk masak memasak. Akupun terpaksa bertumpu dengan kedua tanganku di belakang badanku, mengimbangi goyangan mbak nila yang asyik menunggangi diriku.“Uufffhh.. Sedepp legitttt…” Ujarku lagi setengah sadar.“Mmm iyaa? Badanku terasa segar sekali. Sambil terhuyung-huyung, kuraih handukku dan kutinggalkan mbak nila yang masih mendengkur pelan di kasur. Ia pun bergerak mendekatan wajahnya hingga tinggal berjarak sejengkal dari wajahku. Aku berkata pada diriku ini sudah terlalu jauh. Meski ia nampak shock, dengan cepat ia mengangguk-anggukan kepalanya seakan memberi kode padaku untuk




















