Hatiku bertanya-tanya. Aku semakin kaget begitu kutahu orang itu adalah Kang Hendi, kakak iparku!Saking kagetnya, aku berteriak sekuat tenaga. Kami berkutat saling bertahan.Kudorong tubuh Kang Hendi sekuat tenaga sambil terus-terusan mengingatkan dia agar menghentikan perbuatannya. Benar saja besar dan panjang. Aku kembali berusaha tetapi nampaknya ia belum memperlihatkan tanda-tanda. Kebutuhanku yang sudah cukup lama terkekang. Air mataku langsung menetes di pipi. Tak ada jalan bagiku untuk melarikan diri. Lidahnya menjulur menelusuri garis memanjang bibir kemaluanku. Aku takut semua itu malah akan membuat hidupku lebih merana. Orang tuaku, suamiku dan yang lainnya? Pertama seminggu sekali ia mengunjungiku, kemudian sebulan dan terakhir aku sudah tak menghitung lagi entah berapa bulan sekali dia datang kepadaku untuk melepas rindu.Aku




















