Hasilnya, SMS ku dapat jawaban dari seorang wanita setengah baya 23 tahun asal Jakarta (sebut saja namanya Silvia). Kujulurkan lidahku sambil memegang clitorisnya. Hanya sebagian penisku yang masuk. Kumasukkan penisku perlahan-lahan. Kami berciuman. Kami berciuman. Seperti yang dia pesan, aku diminta menunggu di peron Stasiun. Kugesek-gesekan kepala penisku di cairan yang membanjir itu. Melihat Silvia begitu masih belum reda, birahiku bangkit kembali. Kadang-kadang tangan Silvia nakal menggoda bagian sensitifku. Setelah itu tubuhnya ku balik sehingga tidak tengkurap lagi. Cukup lama, aku menunggu sendiri di peron, hampir satu jam hanya duduk memandang orang-orang berlalu-lalang. Suatu ketika aku merasakan badan Silvia mengejang dengan mata yang tertutup rapat. Sementara tatapan matanya, seolah ada rasa dahaga yang tertahan bertahun-tahun.


















