“Kok berhenti mas?” tanyanya. Kulaju motorku ke arah selatan Yogya. “Nah gitu dong, jangan sedih terus, ntar ilang lho manisnya” kataku cengengesen.“Tu kan… mulai lagi” ketusnya sambil bersiap untuk mencubit pinggangku lagi. “Dasar cowok gak tahu di untung, minggat sana sama gendaknya” maki dirinya kepada cowok di telepon tadi. Dinginnya malam tak cukup untuk mendinginkan hati ini, terlebih dalam calanaku yang menginginkan jatah. “Kamu masih perawan Ka?” tanyaku mendekatinya. Wanita itu menengadah, terlihat air mata yang masih mengalir dari kedua boal matanya. “Kamu masih perawan Ka?” tanyaku mendekatinya. Suntuk! Kulaju motorku ke arah selatan Yogya.




















