Mas cuma hari-hari tertentu sih datang ke kantor kami.”Kulirik Windy sekarang. Sambil tersenyum aku mengeluarkan juga pakaian yang terlipat rapi dari kardus-kardus itu juga. Windy meletakkan gelasnya di meja, dan langsung memegang kepalaku yang sudah menyeruduk masuk ke pangkal pahanya. Bukan bergoyang seperti tadi, tapi bergetar, mengejang, otot pangkal pahanya menegang, tangan keduanya menangkap tanganku yang bergerak cepat di bagian bawah tubuhnya. Jarang ada yang lembur sampai sore begini. Kutambah getaranku dan kupercepat.Segera saja Windy bergetar, menggelijang, menegang otot perut dan pahanya, mulutnya terbuka tak bersuara kemudian tangannya mengangkat pahanya, ikut-ikut bergetar sesaat lagi. Rok bawahnya sekarang terlepas saat Windy berdiri menghadapku. Ratih mulai mengerakkan jemarinya ikut-ikut memasuki lubangnya sendiri.


















