“Dan, kamu tak boleh lagi tidur denganku”, Katanya lagi. Memandanginya. Kejantananku yang semakin matang terasa mengeras, apalagi karena aku memang ingin pipis.Ingat kalau aku ingin pipis, maka aku dengan perlahan mengangkat tangan Kak Tina dan menarik tanganku. Aku melihat Kak Tina memegang novel dengan tangan kanannya, sedang tangan kirinya menggosok-gosok bagian rahasia tubuhnya. Sejak malam itu, setiap malam aku melakukan hal itu. “Emangnya..?” tanyaku heran. Setelah makan, seperti biasa aku dan Kak Tina menuju kamar kami. Telah memakai kain sarung. “Kau sudah pulang, Sapto?”. Aku kaget! “Atau..”, Kak Tina memandangku, lalu tersenyum lebar, “Kamu mimpi basah ya, Sapto?”. Tinggallah aku sendiri.














