Terpaksalah aku tinggal dan ditemani kedua pembantuku. “Besok, Pak,” kataku, “Ada urusan penting di perkebunan.”
“Oooo…” Hanya itu yang keluar dari mulutnya. Bokep China Buah dadaku pun tidak luput dari jamahan tangan kasarnya. Mataku tak mau terpejam. “Tidak usah, Bu,” tolaknya. Jadi di rumah itu sekarang yang ada hanya aku dan Pak Oding. Namun entah kenapa di malam yang dingin dan suasana yang redup itu, tanpa kusadari, aku akhirnya pasrah dalam pelukan Pak Oding yang adalah pembantuku. Sebagai pengusaha, ia ingin kudampingi sehingga tidak merepotkannya untuk pulang pergi ke Padang menemuiku. Lalu aku beranjak ke kamarku…
“Kemana, Bu?” Tanya pak Oding.“Saya tidur dulu…” Jawabku. Tampak jelas bahwa Pak Oding sangat senang mendapatkan kenyataan itu.




















