Lalu dia kembali ke tempatku duduk, kembali memeluk aku yang sudah betul-betul panas dingin.“Mau nggak kayak gitu??” setengah berbisik dewi nanya didekat telingaku, seluruh badanku jadi merinding. Tanganku mulai mengusap dan berusaha menyibak jembutnya, mencari sesuatu seperti yang ada di situs-situs porno. Bibirnya ditempelkan ke telingaku. Enakkk?… terus mas maju mundur aja….”
“Ya mbak, enak. Dewi tersenyum melihatku, kulihat mulutnya sedikit mengecap-ngecap. Akhirnya aku gak berani lagi ngliat dia. “Lho, udah nikah ya mbak? Sambil mataku lihat jam dinding, 22.30. Tahun itu dewi udah punya suami baru, seorang perwira polisi. Banyak olahraga kali ya?). Ehh, jangan panggil saya mbak dong. Pundak Dewi kemudian merendah, pantatnya sekarang benar-benar nungging, nafasnya mulai memburu tak teratur.




















