Ini benar-benar pesta seks hebat yang pernah kualami. Setelah dirasa aman ia menyuruhku cepat-cepat keluar kamarnya. “Pesta apa?” tanyaku. Aku semakin bingung karena yang semula kuanggap pemerkosaan atas diriku sekarang sudah berganti jadi kebutuhan dan kenikmatan. Ugh. Aku Bimo,” bisiknya. Namun aku tetap ngobrol ramah dengan mereka. Lampu kamarku dimatikan sehingga aku tak bisa melihat siapa yang sedang berusaha memperkosaku. “Sudah, mas. Ada nasi goreng, bakmi, gorengan dll. Aku membayangkan diriku sedang melayani Pak Anand dan kedua putranya. Mereka seolah tak percaya bagaimana mungkin gadis desa lugu macam aku begitu piawai mengolah syahwat dan menjadi saluran pemuas nafsu. Menjelang malam suasana berubah ramai karena mereka sudah pulang. jangan, mas!” teriakku.












