Saya jadi ketakutan. Timbul keberanian saya. Dia diam, hanya matanya yang lurus ke arah mata saya. Dia rebahkan tubuhnya di sisi Nisa. Tersentuh dagihg kenyal. Skandal terus berlangsung di dalam rumah saya. Suaranya sangat keras. Saya cium bibirnya dengan tangan saya tetap meremas-remas payudara besarnya. Tetapi juga siang hari saat istri kerja dan aku pulang diam-diam. Susah bangun sekalipun anak menangis keras di sisi saya. Saya sentuh pelan-pelan. Saya sibakkan bibir memeknya. Sesekali melirik ke arah TV. Kulitnya putih bersih. Kadang memutar-mutar di ujung bibir. Beberapa saat kemudian dia mulai tenang. Sarung saya lepas. Tak ada rekasi. Jam 20.00 Sri meminta Nisa untuk dibawa ke kamarnya. Jadi sangat jarang perempuan tertarik secara fisik kepada saya.Saya




















