“Ini kesempatan baik, aku harus dapat mengolah Ena” tutur ku dalam Hati. “Tanggung jawab dong” ucapku selamba mennyinggungnya. dan ia bergerak pelan..aku kaget..kemudian aku lepas ciuman ku… Ena tampak tertidur lagi. Saat ku coba menjilati bibir nya, teryata barulah aku tau bahwa ternyata Ena hanya pura-pura tidur. “Nanti ajalah pulangnya Di” kataku, “ G enak bang, ini udah malam saya harus pamt” ujar Edi sembari langsung melangkah mau keluar.“ Na… ni Edi mau pulang” kataku membritahu Ena, “ Iya bang… ini aku kedepan” ujar Ena cepat-cepat sambil berlari kecil dari arah dapur keluar. “Oh…” jawabku dalam hati yang mengerti apa yang dimaukan Ena. Perlahan tetapi pasti kujelajahi kedua bukit kembar yang untuk pertama kalinya kudapati




















