Ke dadanya yang terbuai-buai di dalam air. Jantungnya berdegup kencang, seperti ketika waktu itu aku melumat bibir bidadari yang amat aku dambakan.“Teruss..?”, Tania berucap pelan sambil mulai memejamkan matanya.Bayangan percumbuan kami di dalam mobil seminggu yang lalu nampak jelas di pelupuk matanya. Kini kami duduk berhadapan dengan kaki saling menyilang. Mas cuman pakai celana tidur satin hitam, nggak pakai apa-apa lagi.. Satu kali. berputar-putar di sana dua-tiga kali ..“Aaacchh..,” erangan Tania semakin jelas. Bukan saja karena Tania tidak mau melanggar komitmen untuk tidak menggaguku di rumah, tetapi juga karena ia sendiri merasa sungkan bila ternyata telphonenya nanti diangkat oleh orang lain di rumahku.Siapa orang itu dan apa kata orang itu nanti, kalau ia sampai mencari-cariku

