“Eeehhh…” erangku juga. Aku sudah tidak tahan untuk memasukkan seluruh burungku ke tempatnya yang terindah.Kemudian kurebahkan badanku di atas tubuhnya yang indah, kuciumi pipinya sambil pantatku kugerakkan naik turun. Kemudian muncul erangan panjang diikuti denyut-denyut dari lembah sorganya.“Eeehhh…” desahnya. Pundaknya beberapakali bergerak merinding kegelian. Sedangkan aku belum apa-apa.“Sekarang gantian Rin, kamu yang maen aku yang ngambil photonya”, kata istriku.“Ah Mbak ini ada-ada aja”, kata Rini malu-malu.Sebagai laki-laki, aku sangat paham dari bahasa tubuhnya bahwa dia tidak menolak. Ia sangat setuju dan antusias.Malam sekitar jam 20:00 HP istriku berdering, sesuai pembicaraan ia akan datang menemui kami. Kuteruskan permainanku dengan mengitari sekitar bukit-bukit segar itu.















