“Apa Mes”, jawabnya sambil tersenyum melihat aku tersiksa. Penisnya ditempelkannya pada bibir vaginaku. Aku yang sekarang meringis. Pinggul kuangkat tinggi-tinggi sementara kedua tanganku menggapai pantatnya dan menekannya kuat-kuat. Mulutnya terbuka perlahan menerima lidahku. Dilumatnya mesra. Dia terus mempermainkan jari tengahnya untuk menggelitik bagian yang paling pribadi tubuhku. Bukan untuk mencegah, aku membiarkan tangannya mengelus dan meremas toketku yang montok. aku open aja kedianya. Tubuhku melengkung indah dan untuk beberapa saat lamanya tubuhku kejang. Kata ini ternyata membuat wajahku memerah. Aku yang masih merasakan orgasmeku mengunci pinggangnya dengan kakiku yang melingkar di pinggangnya. “Enggak kok Mes, sebentar lagi sampe”, katanya sambil mempercepat lajunya kendaraan. Dia sengaja mengulur-ulur dengan hanya menggesek-gesekan kont0l.










