sudah jauh-jauh balik lagi kan mubazir.. Benar-benar nikmat. Aku tidak mendengar ada jawaban dari yang diperintah Bu Murni tadi. Aku masih berjuang untuk hal itu hingga detik ini. Kamu juga sih..”
Setelah itu sambil sama-sama tersenyum aku nekad menarik kedua tangannya yang lembut itu hingga tubuhnya menempel di dadaku, dan akhirnya kami saling berpelukan tidak terlalu erat tadinya. Nanti kalau ada apa-apa gimana..” aku menimpalinya. Aku manggut-manggut.. Kan capek nyetir mobil..” katanya. Iya.. Tapi tidak ada kenikmatan saat itu karena berupa perkosaan yang entah kenapa Pipit memilih untuk memendamnya saja. Sesampai dirumah kakaknya, ternyata tuan rumah sedang pergi membantu tetangga yang sedang hajatan. Aku mendorong mengarahkannya ke dipan untuk kemudian merebahkannya dengan masih berpelukan. Bibirnya basah-basah




















